Selama ini, kita sering melihat peristiwa Golgota hanya sebagai drama penebusan dosa pribadi—urusan antara kita dan Tuhan. Namun, teolog Sallie McFague mengajak kita untuk melihat melampaui itu. Ia mengingatkan bahwa di Bukit Tengkorak, bukan hanya Yesus yang disalibkan, tetapi juga “kayu” itu sendiri.
Kayu salib bukan sekadar alat hukuman. Ia adalah simbol alam yang bisu, yang dipaksa menanggung beban kejahatan manusia. Bagi McFague, penyaliban adalah pengkhianatan ganda: kita mengkhianati Tuhan, sekaligus merusak alam ciptaan-Nya.
McFague menantang gambaran Tuhan yang jauh di atas sana sebagai Raja yang maskulin dan jauh. Ia justru mengajak kita melihat Tuhan sebagai sosok yang imanen—Tuhan yang hadir, bernapas, dan merasa di dalam alam semesta ini. Jika dunia adalah “tubuh” Tuhan, maka setiap pohon yang ditebang, setiap sungai yang tercemar, dan setiap ekosistem yang hancur adalah luka pada tubuh-Nya.
Saat ini, kita hidup di bawah bayang-bayang necropower—sebuah sistem ekonomi yang lebih mementingkan keuntungan segelintir orang daripada keberlangsungan hidup. Bencana alam yang kita alami hari ini bukanlah sekadar “takdir,” melainkan dampak dari tangan manusia yang terus menyalibkan alam demi keserakahan.
Teologi ini mengubah cara kita beriman. Jika dulu kita merasa cukup dengan memohon ampun untuk kesalahan pribadi, kini kita dipanggil untuk bertobat dari “dosa ekologis.”
Melihat Salib hari ini berarti melihat dunia yang sedang dicabik-cabik. Panggilan sebagai pengikut Kristus bukan lagi sekadar mengejar keselamatan di luar sana, melainkan menjaga dan memulihkan “kayu” tempat Kristus bersandar.
Beriman, dalam bingkai ini, menjadi tindakan nyata: merawat lingkungan, menentang ketidakadilan struktural, dan menjadi sahabat bagi ciptaan yang sedang menderita. Pemulihan iman yang sejati haruslah berjalan seiring dengan pemulihan bumi. Kita tidak bisa mencintai Sang Pencipta jika kita terus membiarkan tubuh-Nya—yaitu alam semesta ini—hancur di tangan kita.
Kita terjebak dalam spiritualitas yang “bersih”—yang hanya mencari ketenangan di ruang-ruang ibadah atau dalam doa-doa yang terpisah dari realitas tanah dan air. Namun, jika kita mau menatap salib dengan mata yang lebih jujur, kita akan menyadari bahwa Tuhan tidak pernah memisahkan diri-Nya dari debu, lumpur, dan peluh bumi. Allah yang memilih menjadi manusia dalam diri Yesus juga memilih untuk terikat pada nasib bumi. Ketika kita mengabaikan krisis iklim atau menutup mata terhadap kerusakan lingkungan, sebenarnya kita sedang memalingkan wajah dari Tuhan yang sedang “berseru” melalui setiap ekosistem yang terancam punah.
Inilah mengapa menjadi religius di era ini menuntut keterlibatan yang lebih radikal. Kesalehan tidak lagi bisa diukur hanya dari seberapa rajin kita datang ke rumah ibadah, melainkan dari seberapa berani kita menolak sistem yang mengorbankan bumi demi kenyamanan instan. Saat kita memilih untuk lebih sederhana dalam konsumsi, atau lantang bersuara melawan praktik industri yang merusak, kita sedang melakukan tindakan liturgis. Kita sedang melayani “tubuh” Tuhan yang sedang kesakitan, dan itulah bentuk penyembahan yang paling konkret saat ini.
Bayangkan salib itu bukan sebagai benda mati, melainkan sebagai detak jantung alam yang sedang melemah. Kristus yang dipaku di sana adalah bentuk solidaritas Ilahi terhadap semua makhluk yang menderita akibat ketamakan kita. Jika kita mengaku mencintai Yesus, bisakah kita tetap membiarkan pohon-pohon ditebang habis, hutan digunduli, dan udara diracuni? Kita tidak bisa lagi memisahkan antara kasih kepada Tuhan dan kasih kepada ciptaan-Nya. Keduanya adalah satu napas yang sama; merusak salah satunya berarti mengkhianati keseluruhan hubungan kita dengan Sang Pencipta.
Kita perlu belajar melihat alam sebagai “sahabat” dan “pengasuh,” bukan sekadar komoditas yang siap dikuras. Ketika kita mulai memperlakukan tanah, air, dan makhluk hidup lainnya dengan rasa hormat, kita sebenarnya sedang membangun kembali hubungan yang retak sejak lama. Ini adalah proses penyembuhan yang harus dimulai dari hati kita sendiri. Kita perlu berhenti menjadi “penyiksa” alam dan belajar menjadi “rekan kerja” Allah dalam memelihara kehidupan. Setiap langkah kecil untuk memulihkan lingkungan adalah sebuah langkah untuk menghapus paku-paku yang masih terus menancap di tubuh dunia.
Pada akhirnya, teologi ini bukan tentang memberikan beban tambahan atau membuat kita merasa bersalah tanpa henti. Sebaliknya, ini adalah undangan untuk merasakan kebebasan yang lebih besar: kebebasan untuk peduli, kebebasan untuk terhubung, dan kebebasan untuk ikut merasakan penderitaan sekaligus harapan ciptaan. Menyadari bahwa dunia ini adalah “tubuh Allah” justru membuat hidup kita jauh lebih bermakna. Kita tidak lagi berjalan sendirian di dunia yang asing, melainkan berjalan bersama Sang Sahabat yang hadir di setiap embusan angin, di setiap aliran sungai, dan di setiap jengkal tanah yang kita pijak.
Dengan cara pandang inilah, kita bisa kembali menatap salib bukan dengan rasa takut akan penghakiman, melainkan dengan semangat untuk memulihkan. Kita dipanggil untuk menjadi tangan-tangan yang membelai “kayu kering” itu, menghangatkan kembali alam yang dingin dan ringkih, serta berjuang agar kehidupan bisa terus bersemi. Di dunia yang sedang terluka, menjadi orang beriman berarti menjadi seseorang yang membawa kesembuhan bagi bumi, karena di sanalah Tuhan benar-benar sedang menunggu kita.