Belajar “Bisa Merasa”, Bukan Sekadar “Merasa Bisa”

Pdt. Arnold Brahmana

July 24, 2026

Sepekan berlalu, layar gawai kita kembali menyuguhkan kabar yang mengoyak hati dari Sumatera Utara. Sebuah tragedi lalu lintas di jalur lintas Sibolangit, Deli Serdang, telah merenggut nyawa dan menyisakan luka yang begitu dalam bagi banyak keluarga. Setiap kali mendengar nama Sibolangit disebut dalam berita duka, batin kita seolah diguncang. Kita tahu persis, jalur itu adalah ruang denyut kehidupan tempat begitu banyak orang melintas setiap harinya dengan harapan bisa pulang dengan selamat ke pelukan orang-orang terkasih. Namun, yang sering kali lebih menyayat hati daripada berita kecelakaan itu sendiri adalah apa yang terjadi setelahnya di ruang-ruang percakapan digital kita. Belum sempat darah di jalanan mengering, belum sempat air mata keluarga korban benar-benar menetes, riuh rendah komentar sudah membanjiri lini masa.

Tiba-tiba saja, kita melihat begitu banyak “hakim” dan “analis” mendadak bermunculan di kolom komentar maupun di grup-grup WhatsApp. Ada yang sibuk menyalahkan pengemudi, ada yang memaki infrastruktur, hingga mereka yang terjebak dalam debat kusir tak berujung mengenai siapa yang paling bertanggung jawab atas musibah ini. Di titik inilah kita perlu berhenti sejenak, menarik napas panjang, dan bertanya pada nurani kita sendiri: Sebenarnya, apa yang sedang kita cari dari kebisingan ini?

Rasanya ada sebuah virus ke-tidak-pekaan yang sedang mewabah dalam masyarakat kontemporer kita. Kita terlalu didominasi oleh dorongan ego untuk “merasa bisa”—merasa bisa menyimpulkan, merasa bisa menganalisis, dan merasa harus menjadi yang paling pertama tahu dan berkomentar. Padahal, ada satu keterampilan batin yang jauh lebih tinggi dan sangat kita butuhkan saat ini, yaitu kemampuan untuk “bisa merasa”. Bisa merasa melampaui riuhnya komentar berarti kita bersedia menundukkan ego kita. Ini adalah keberanian untuk diam dan mencoba menyelami empati yang paling dalam, membayangkan bagaimana hancur dan disorientasinya hati mereka yang tiba-tiba harus kehilangan ayah, ibu, anak, atau sahabat dalam hitungan detik.

Kita sering lupa bahwa di balik angka-angka statistik korban yang dilaporkan oleh media, ada manusia-manusia yang sedang mengalami rasa terkejut dan getir yang luar biasa. Kehilangan anggota keluarga secara mendadak di jalan raya membawa trauma yang jauh lebih berat dan menakutkan daripada kematian yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Oleh karena itu, marilah kita memberikan penghormatan kepada setiap keluarga korban untuk mengatur tempo dan ritme kedukaan mereka sendiri. Mereka butuh ruang untuk mencerna “kejutan” yang merenggut rasa aman mereka, bukan panggung perdebatan publik yang justru memperkeruh suasana batin mereka.

Jangan lagi kita menambah beban mereka dengan membagikan foto-foto atau video potongan kejadian tanpa sensor di grup-grup obrolan. Mari kita sudahi perdebatan-perdebatan kusir yang tidak sensitif, yang sering kali mengaburkan martabat manusia di bawah tumpukan asumsi liar. Biarkanlah pihak yang berwenang—kepolisian, tim medis, dan para ahli—bekerja dengan tenang untuk menyelidiki fakta-fakta teknis di lapangan. Menahan diri untuk tidak berspekulasi adalah bentuk dukungan dan penghormatan terbaik yang bisa kita berikan bagi proses penegakan hukum dan keadilan itu sendiri.

Dalam situasi yang serba kacau dan penuh air mata seperti ini, keheningan bukanlah tanda bahwa kita tidak peduli atau bersikap pasif. Justru sebaliknya, keheningan yang disertai dengan doa adalah tindakan moral dan spiritual yang paling aktif, paling tulus, dan paling dewasa. Mari kita puasakan jari-jemari kita dari nafsu untuk sekadar berkomentar dan menghakimi. Biarlah kita menggunakan energi yang kita miliki hari ini untuk mendoakan ketenangan jiwa para korban, serta memohon karunia kekuatan dan penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Pada akhirnya, marilah kita belajar untuk terus bisa merasa di tengah dunia yang makin bising ini. Sebab empati dan doa yang dihadirkan dalam keheningan adalah ragi cinta kasih sejati yang mampu menyejukkan bumi yang sedang berduka.