Negara Ini Mau Dibawa ke Mana?

Pdt. Arnold Brahmana

August 3, 2026

Kita sering disuguhi omongan tinggi para pejabat yang bahasanya seperti orang pintar padahal sebenarnya membuat rakyat makin bingung. Sudut pandang sosialisme membantu kita melihat bagaimana aturan main di negeri ini memang sengaja dibuat tidak adil sehingga orang miskin susah untuk naik kelas. Kita tidak perlu bicara teori ekonomi yang melayang di awan karena kenyataan di lapangan sangat jelas dan menyakitkan bagi masyarakat kecil. Pertanyaan tentang untuk apa negara ini ada sering kali hilang ditelan kepentingan para pemilik modal besar yang mengatur kebijakan publik. Oligarki atau kelompok kecil penguasa kekayaan selalu menarik untuk dibahas karena mereka bisa menguasai aset bersama secara sah lewat undang-undang yang mereka rancang sendiri. Segelintir orang kaya ini menguasai bisnis strategis dari energi hingga bahan pokok tanpa menyisakan ruang bagi orang kecil untuk berkembang. Mereka terlihat begitu hebat mengatur panggung politik seolah negara ini adalah perusahaan pribadi milik keluarga besar mereka. Namun di balik kekayaan itu sebenarnya ada ketakutan luar biasa jika hak-hak istimewa mereka mendadak hilang. Kita sering silau melihat gaya hidup mewah mereka padahal kekayaan itu menumpuk dari hasil memeras tenaga rakyat biasa.

Pentingnya bernegara seharusnya ada pada perlindungan untuk warga yang lemah dan bukan malah menjadi alat untuk menindas rakyat secara sah. Negara dibentuk agar kekayaan bumi dan hasil usaha bisa dibagi secara adil untuk semua orang bukan hanya untuk dinikmati segelintir elite politik. Jika negara gagal membagi keadilan sosial maka kepercayaan rakyat kepada pemerintah akan pelan-pelan habis dan hilang. Kita butuh pemerintah yang berani dan kuat untuk menata ketamakan para pemilik modal yang selalu ingin menumpuk harta tanpa batas. Tanpa negara yang berdiri membela buruh dan petani maka hukum rimba akan berlaku di mana yang kuat selalu memangsa yang lemah. Rakyat hari ini sebenarnya tidak meminta hal yang rumit atau aneh-aneh dari para pemimpin yang duduk nyaman di kursi kekuasaan. Masyarakat hanya ingin harga beras murah, pekerjaan yang layak dan sekolah anak-anak terjamin tanpa harus berutang ke sana-sini. Nilai merah pada kinerja politik yang terus berulang menunjukkan betapa cueknya penguasa terhadap beban hidup yang ditanggung rakyat bawah. Janji manis politik yang sering diucapkan saat kampanye sudah tidak mempan lagi untuk membohongi (anak muda) yang makin kritis dan sadar. Kepercayaan masyarakat sudah jatuh ke titik paling rendah karena janji-janji manis pemilu selalu berujung pada kekecewaan yang nyata.

Politik hari ini sering dijadikan alat penenang pikiran agar rakyat lupa pada masalah utama mereka lewat berbagai pencitraan di media sosial. Kebijakan keuangan dan aturan ekonomi yang dibuat para ahli sering kali lupa bahwa ada perut rakyat yang sedang berbunyi karena lapar. Program bantuan cuma-cuma sering dibungkus dengan istilah keren padahal kenyataannya hanya obat penenang sementara bagi rakyat yang kekurangan. Perlawanan anak muda terhadap kesewenang-wenangan menunjukkan bahwa masyarakat mulai sadar walau perjuangan memperbaiki keadaan masih sangat berat. Kita memang tidak harus selalu setuju dalam melihat masalah bangsa ini karena perbedaan nasib hidup tentu membuat pandangan kita berbeda. Orang kaya pasti akan membela sistem ekonomi pasar bebas sementara masyarakat kecil akan terus menuntut keadilan sampai kapan pun. Perdebatan di media sosial sering kali tidak menyelesaikan masalah karena kita malas membicarakan akar persoalannya yaitu siapa yang menguasai sumber daya. Kebodohan yang dibiarkan melalui kualitas sekolah yang buruk membuat masyarakat mudah diadu domba oleh isu agama atau suku. Jangan biarkan negara ini seperti kapal besar yang dijalankan oleh kapten yang bingung tanpa kompas dan hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri.

Para pemilik modal memanfaatkan situasi ini dengan menyebarkan narasi seolah kemajuan ekonomi negara adalah keberhasilan bersama padahal yang kaya makin kaya. Angka pertumbuhan ekonomi yang dipamerkan di televisi tidak ada artinya jika kenyataannya jarak antara si kaya dan si miskin makin lebar. Para pekerja dipaksa bekerja keras dengan gaji murah demi mengejar angka pertumbuhan yang dibanggakan para pengusaha. Kita seperti hidup dalam penjajahan model baru di mana musuhnya bukan lagi pasukan asing melainkan gabungan pengusaha rakus dan pejabat daerah. Keserakahan mereka dibungkus rapi dengan alasan pembangunan nasional seolah-olah itu semua demi kebaikan seluruh rakyat Indonesia. Arti penting bernegara pada akhirnya harus dikembalikan pada niat awal pembentukan bangsa yaitu mencerdaskan dan memakmurkan seluruh rakyat tanpa terkecuali. Negara bukan cuma tempat memungut pajak melainkan pelindung terakhir bagi rakyat kecil agar tidak diinjak-injak oleh kekuatan uang. Ketika aturan hukum sengaja dibuat cuma untuk menguntungkan para pengusaha besar maka protes warga adalah tindakan wajar yang masuk akal. Kita tidak boleh menyerah pada keadaan yang buruk ini karena sejarah membuktikan bahwa perubahan selalu dimotori oleh gerakan rakyat kecil. Rasa kebersamaan antar-warga adalah senjata paling kuat untuk melawan kesewenang-wenangan penguasa yang sombong dan serakah.

Ketimpangan hidup yang makin parah ini ibarat bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak dan merusak hubungan bermasyarakat di negeri kita. Selama ini kita dibohongi oleh paham bahwa aturan pasar akan menata segalanya secara adil tanpa perlu dicampuri oleh peran pemerintah. Kenyataan di lapangan justru memperlihatkan bahwa uang yang menumpuk di sedikit orang telah merusak aturan hidup berbangsa. Rakyat kecil terus dihimpit oleh kenaikan harga barang sementara gaji mereka tetap atau bahkan berkurang setiap tahunnya. Kepolosan kita dalam mempercayai bahwa semua orang punya kesempatan sama membuat kita lupa bahwa garis start orang kaya dan orang miskin jauh berbeda.

Gaya hidup konsumtif terus ditanamkan agar rakyat sibuk berbelanja dan lupa pada ketidakadilan yang sedang terjadi di sekeliling mereka. Kita diajarkan untuk saling bersaing secara kasar demi bertahan hidup ketimbang saling tolong-menolong membangun kekuatan bersama. Media massa besar yang dimiliki oleh para pengusaha ikut menyebarkan berita yang menenangkan agar posisi orang kaya tetap aman dari protes. Tidak ada ruang bagi gagasan baru karena setiap kritik keras langsung dituduh sebagai tindakan pembangkangan yang merusak keamanan negara. Aturan publik yang dibuat akhirnya cuma kompromi antara pejabat dan pengusaha tanpa pernah memikirkan nasib rakyat yang hidup di pinggir jalan.

Penjualan layanan umum seperti sekolah dan rumah sakit kepada pihak swasta adalah bentuk pengabaian nyata terhadap tugas utama negara. Sekolah dan rumah sakit diubah menjadi tempat berbisnis di mana pelayanan bagus cuma bisa dibeli oleh orang yang berduit tebal. Orang miskin makin menderita bukan karena mereka malas bekerja melainkan karena sistem yang ada memang menyudutkan posisi mereka. Kita menyaksikan hilangnya rasa kemanusiaan hanya demi mengejar keuntungan uang yang masuk ke kantong segelintir pemilik modal. Ketika kesehatan warga dijadikan barang dagangan maka tujuan mulia bernegara sebenarnya sudah mati dalam pikiran para pembuat kebijakan. Penguasaan tanah oleh perusahaan properti dan perkebunan besar telah mengusir petani dan masyarakat adat dari tanah tempat tinggal mereka sendiri. Konflik perebutan tanah terjadi di mana-mana sebagai bukti nyata bahwa kekuatan uang bisa mengalahkan hak hidup manusia biasa. Petugas keamanan sering kali malah berada di pihak perusahaan ketimbang membela warga yang sedang mempertahankan tanah tempat mencari makan. Penggusuran ini dianggap sebagai hal biasa demi pembangunan padahal itu adalah bentuk perampasan hak warga yang sangat tidak adil. Kebodohan kita yang paling nyata adalah menganggap penggusuran tanah sebagai tanda kemajuan zaman padahal itu adalah tindakan yang merugikan rakyat.

Sistem pemilu yang kita banggakan hari ini sering kali cuma menjadi panggung hiburan tanpa membawa perbaikan hidup yang nyata bagi warga. Pemilihan umum tiap lima tahun sekali hanya jadi panggung pergantian jabatan di antara kelompok pengusaha dan politisi yang itu-itu saja. Biaya untuk mencalonkan diri sangat mahal sehingga menutup kesempatan bagi orang biasa atau perwakilan buruh untuk duduk di kursi pemerintahan. Akibatnya undang-undang yang dihasilkan selalu membela kepentingan pemilik modal ketimbang melindungi nasib para pekerja harian. Kita diajak merayakan pesta demokrasi padahal kita cuma disuruh memilih siapa pimpinan baru yang akan memimpin kita selanjutnya. Kesadaran warga biasa kini berada di persimpangan jalan antara menerima nasib begitu saja atau mulai bersatu memperbaiki keadaan secara bersama. Kita harus berhenti berharap pada kebaikan hati orang-orang kaya karena sistem bisnis murni tidak pernah mengenal rasa kasihan dalam mencari untung. Gerakan perubahan harus dimulai dari tingkat paling bawah melalui ikatan pekerja kelompok tani dan organisasi pemuda yang mandiri. Berita tidak benar yang disebarkan untuk menutupi kenyataan harus dilawan dengan kenyataan hidup sehari-hari tentang penderitaan rakyat bawah. Kesadaran untuk saling membela dan menata ekonomi secara adil menjadi satu-satunya jawaban masuk akal atas rusaknya aturan main saat ini.

Rasa setiakawan antar-sesama pekerja adalah kunci utama untuk membongkar tatanan yang tidak adil dan sudah berakar lama di negara ini. Buruh pabrik petani di sawah dan pekerja harian di kota pada dasarnya menghadapi masalah yang sama yaitu ketamakan pemilik modal. Kita tidak boleh lagi dipecah belah oleh isu suku atau agama yang sengaja dihembuskan untuk membenturkan sesama rakyat kecil. Setiap aksi protes dan tuntutan bersama adalah tempat belajar di mana rakyat paham bahwa mereka punya kekuatan jika bersatu. Kekuatan masyarakat yang terorganisir dengan baik jauh lebih besar daripada gabungan uang dan kekuasaan milik kelompok oligarki. Penataan ulang cara kita mengelola ekonomi sangat perlu dilakukan dengan mengutamakan kebutuhan hidup warga di atas urusan mencari untung semata. Sektor penting seperti listrik air bersih dan angkutan umum harus dikuasai penuh oleh negara dan diawasi secara terbuka oleh warga. Aturan pajak yang adil harus diterapkan dengan mewajibkan orang yang sangat kaya membayar pajak lebih besar demi memotong penumpukan harta. Hasil pajak tersebut dipakai untuk membiayai jaminan kesehatan serta sekolah gratis yang bagus untuk seluruh anak bangsa tanpa terkecuali. Hanya dengan cara ini kita bisa memastikan bahwa hasil kekayaan negara benar-benar dirasakan manfaatnya oleh seluruh rakyat secara merata.

Pembersihan cara berpikir juga harus berjalan bersamaan dengan perbaikan ekonomi agar kita tidak lagi merasa kecil di hadapan penguasa. Kita harus berhenti berpikir bahwa gaya hidup mewah dan membeli barang mahal adalah tanda utama sukses atau majunya sebuah masyarakat. Nilai gotong royong dan pemanfaatan fasilitas bersama harus dihidupkan lagi sebagai dasar tatanan hidup yang lebih adil dan tenang. Pendidikan yang mengajarkan cara berpikir kritis harus diberikan agar warga sadar ketika hak-hak mereka sedang dikurangi oleh aturan yang tidak adil. Tanpa perubahan pola pikir dalam masyarakat maka perubahan aturan politik apa pun akan dengan mudah dimanfaatkan kembali oleh pemilik modal.

Masa depan negara ini tidak ditentukan oleh para pejabat yang pandai bersolek dan bicara manis di depan kamera televisi atau media sosial. Arah perjalanan bangsa ini sepenuhnya tergantung pada keberanian warga biasa untuk mengambil kembali hak-hak dasar mereka yang telah diabaikan. Kita harus menolak jadi penonton pasif dalam panggung politik nasional yang alurnya ditentukan oleh para pemodal di belakang layar. Kesadaran untuk menentukan nasib bersama adalah langkah awal menuju tatanan hidup yang adil dan bebas dari pemerasan sesama manusia. Hanya dengan cara itulah negara ini bisa dibawa menuju tatanan yang benar-benar jujur beradab dan menghargai harkat manusia. Proses perubahan hidup mengajarkan bahwa setiap masalah sosial pada akhirnya akan memicu perbaikan ketika rakyat mulai sadar akan hak-hak mereka. Dalam kebingungan bersama yang dipelihara oleh para penguasa nilai-nilai keagamaan hadir bukan untuk menidurkan rakyat melainkan untuk menyalakan semangat keadilan. Tuhan selalu berada di sisi orang-orang yang lapar dan diperlakukan tidak adil sehingga memperjuangkan keadilan bukan cuma urusan perut melainkan bagian dari ibadah. Ketika keadilan makin sulit didapat di bumi kepercayaan kepada Tuhan memberi kita keberanian untuk membongkar kesewenang-wenangan demi menegakkan kebaikan bagi seluruh umat manusia.

Negara Ini Mau Dibawa ke Mana?