Gereja, yang seharusnya menjadi ruang di mana orang miskin menemukan harapan dan orang yang hancur menemukan pelukan, kini sering berubah wajah. Di banyak sudut kota besar, gereja bertransformasi menjadi korporasi raksasa dengan manajemen yang efisien, branding yang tajam, dan layanan yang memanjakan konsumen. Inilah wajah megachurch modern yang lebih sibuk menghitung jumlah jemaat daripada merawat jiwa yang sedang sekarat.
Kita menyaksikan industrialisasi iman di mana “produk” keselamatan dikemas dengan estetika yang memesona. Liturgi yang sakral telah digantikan oleh pertunjukan panggung yang megah. Cahaya lampu yang dramatis, tata suara kelas dunia, dan khotbah-khotbah yang dipangkas agar “ramah media sosial” adalah instrumen untuk menarik pasar. Iman kini menjadi komoditas yang dipasarkan demi memenangkan loyalitas konsumen di pasar religius yang kompetitif.
Di pusat sistem ini, berdirilah sang figur selebritas: sang pendeta-CEO. Ia bukan lagi sekadar pelayan Firman, melainkan ikon gaya hidup, motivator sukses, dan wajah dari sebuah brand gereja. Kharismanya dipoles oleh tim humas, dan kehidupannya yang gemerlap menjadi narasi utama yang dijual kepada jemaat. Kita dipaksa percaya bahwa kesuksesan sang pendeta adalah bukti perkenanan Tuhan, sebuah teologi kemakmuran yang meracuni nurani.
Ketika gereja beroperasi layaknya korporasi, jemaat tidak lagi dipandang sebagai anggota tubuh Kristus yang saling membutuhkan. Mereka berubah menjadi “basis massa” atau “nasabah” yang diharapkan memberikan kontribusi rutin untuk menjaga roda operasional tetap berputar. Hubungan pastoral yang intim dan mendalam luntur, digantikan oleh struktur organisasi yang dingin dan birokratis.
Praktik necropower—politik kematian yang menghisap kehidupan demi kelanggengan status quo—telah menyusup ke dalam struktur gereja ini. Keserakahan akan ruang, bangunan megah, dan akumulasi modal sering kali dilakukan di atas punggung jemaat yang sedang kesulitan secara ekonomi. Gereja menjadi elit yang menjauhkan diri dari penderitaan nyata, lebih peduli pada angka pertumbuhan daripada keadilan sosial.
Inilah pengkhianatan terhadap eklesiologi. Gereja, menurut akar katanya ekklesia, adalah komunitas yang dipanggil keluar dari tatanan dunia untuk menjadi tanda Kerajaan Allah. Namun, ketika gereja mengadopsi logika pasar, ia justru sedang memuja berhala yang sama dengan dunia: uang, kekuasaan, dan popularitas. Kristus yang disalibkan di luar tembok kota kini kembali disalibkan di dalam kemegahan gedung-gedung ibadah kita.
Kita harus berani menggugat: apakah Yesus yang kita sembah adalah Yesus yang berbagi roti dengan orang lapar, atau Yesus “maskot” yang direstui oleh sistem kapitalisme? Gereja yang menjadi korporasi telah kehilangan kemampuannya untuk menubuatkan kebenaran karena ia terlalu sibuk menjaga reputasi mereknya. Kebenaran yang radikal menjadi berbahaya bagi kelangsungan bisnis.
Namun, mengkritik bukan berarti kita harus membenci gereja. Kita mencintai gereja, dan justru karena cinta itulah kita harus berani menelanjangi praktik-praktik yang menyimpang. Kita harus menuntut kembali gereja yang otentik—gereja yang tidak takut menjadi kecil, gereja yang tidak harus selalu menang, dan gereja yang menolak untuk berbisnis dengan iman.
Solusi praksis harus dimulai dari keberanian untuk “de-sentralisasi.” Gereja harus kembali ke komunitas akar rumput yang kecil, di mana setiap orang saling mengenal, saling membasuh kaki, dan berbagi beban. Kembali ke model persekutuan oikos (rumah tangga) yang intim adalah langkah aman untuk melepaskan diri dari jeratan panggung megah yang menjauhkan jemaat dari hakikat pelayanan.
Dalam lingkup lokal, gereja perlu memangkas ego arsitekturalnya. Tidak perlu gedung yang menjulang tinggi jika itu berarti menguras sumber daya yang seharusnya bisa digunakan untuk memberdayakan kelompok marginal. Gereja harus menjadi komunitas yang berbagi, bukan komunitas yang membangun menara babel modern demi kebanggaan denominasi.
Pendeta harus kembali menjadi gembala, bukan selebritas. Seorang gembala harus memiliki bau domba, yang berarti ia harus hadir di tengah pergumulan hidup jemaat, bukan hanya muncul di panggung setiap hari Minggu. Kepemimpinan harus dipulihkan menjadi pelayanan yang melayani (diakonia), bukan memimpin dengan gaya korporasi yang menuntut kepatuhan buta.
Transparansi keuangan harus menjadi mutlak. Gereja yang sehat adalah gereja yang berani membuka pembukuan dan mempertanggungjawabkan setiap sen persembahan di depan jemaatnya. Jika gereja mengklaim sebagai “tubuh Kristus,” maka tidak ada ruang untuk menutup-nutupi pengeluaran yang tidak relevan dengan pelayanan sosial dan rohani.
Pendidikan teologi bagi jemaat awam juga harus diperkuat. Jemaat yang kritis adalah benteng terakhir melawan manipulasi teologi kemakmuran. Kita butuh jemaat yang bisa membedakan antara suara Allah dan retorika motivasi murahan yang dibungkus dengan kutipan ayat Alkitab.
Gereja harus kembali bersahabat dengan “kayu kering,” yakni alam dan orang-orang yang terpinggirkan. Jika kita kembali pada teologi McFague, gereja harus menjadi tempat di mana kita mengakui penderitaan bumi dan kemanusiaan sebagai bagian dari tubuh Allah yang sedang terluka. Ini adalah misi yang lebih mendesak daripada sekadar menambah jumlah jemaat di akhir pekan.
Jangan takut untuk menjadi gereja yang “gagal” di mata dunia—gereja yang tidak memiliki pengikut jutaan, tidak memiliki media sosial yang viral, namun setia menjalankan kasih Tuhan. Keberhasilan di mata Allah adalah kesetiaan, bukan popularitas. Gereja yang merangkul kerendahan hati akan menemukan kembali kekuatan yang sebenarnya.
Mungkin ini saatnya kita menanggalkan identitas gereja sebagai brand dan kembali menjadi gerakan. Gerakan tidak membutuhkan panggung besar, ia hanya membutuhkan hati yang terbakar oleh keadilan dan kasih. Gereja adalah tempat di mana kita belajar untuk mematikan ego kita sendiri, bukan tempat untuk memamerkan kejayaan kita di hadapan sesama.
Mari kita membangun gereja yang membuka pintu lebar-lebar bagi mereka yang disingkirkan oleh dunia, gereja yang tidak menuntut syarat “penampilan” atau “kesuksesan” untuk bisa diterima. Biarlah gedung-gedung megah itu menjadi tempat persinggahan yang nyaman bagi mereka yang letih lesu, bukan menjadi benteng eksklusif yang hanya bisa dimasuki oleh mereka yang “terpilih.” Tantangan kita adalah keberanian untuk memilih, apakah kita akan tetap menjadi bagian dari korporasi yang mengejar keuntungan, atau menjadi bagian dari tubuh Kristus yang rela menderita demi dunia? Pilihan ada di tangan kita hari ini. Mari kita pulang ke altar yang sesungguhnya—altar hati yang penuh dengan belas kasih bagi sesama dan ciptaan-Nya.