Memaknai Kehadiran yang Belum Tiba

Pdt. Arnold Brahmana

August 28, 2024

Penantian adalah sebuah sekolah yang sunyi. Bagi kita yang sedang menanti kehadiran anak pertama, waktu seolah berjalan dengan irama yang berbeda—detik terasa panjang, dan setiap pengumuman kehamilan orang lain menjadi pengingat akan doa yang masih tertahan di langit. Ini bukan sekadar tentang menunggu, melainkan tentang bagaimana jiwa kita ditempa di ruang tunggu Tuhan.

Banyak orang bilang, “Sabar saja, nanti juga ada waktunya.” Namun, bagi yang menjalani, menunggu bukan tentang sabar yang pasif. Menunggu adalah pertaruhan doa. Kita mencurahkan setiap keinginan, setiap kekhawatiran, dan setiap harapan ke dalam bejana doa, berharap bahwa Tuhan tidak sekadar mendengar, tetapi juga sedang merajut waktu yang tepat.

Ada masa di mana air mata menjadi bahasa doa yang paling jujur. Ketika semua usaha medis telah dilakukan dan semua saran telah diikuti, kita akhirnya sampai pada titik di mana tidak ada lagi yang bisa kita tawarkan selain ketidakberdayaan kita sendiri. Dan di sanalah, di titik nol itu, kita mulai belajar apa artinya benar-benar bersandar.

Sering kali, saya bertanya dalam hati: “Tuhan, akan jadi orang tua seperti apa saya nanti?” Pertanyaan ini muncul bukan karena saya meragukan kasih saya, melainkan karena saya menyadari betapa besarnya tanggung jawab untuk menjaga satu jiwa titipan-Nya. Apakah saya akan menjadi orang tua yang sabar? Apakah saya mampu mencerminkan kasih-Nya kepada anak itu kelak?

Mungkin penantian yang lama ini adalah cara Tuhan untuk menyiapkan “rumah” di dalam diri saya terlebih dahulu. Sebelum Ia mempercayakan seorang anak, Ia sedang membersihkan ego, membentuk karakter, dan memperdalam kapasitas kasih saya. Tuhan tidak ingin memberikan anak kepada seseorang yang belum siap untuk menjadi cermin kasih-Nya.

Kita sering merasa bahwa Tuhan sedang menunda. Namun, mari kita renungkan: apakah mungkin Tuhan bukan sedang menunda, melainkan sedang mempersiapkan? Seorang tukang kayu tidak akan memasang atap sebelum fondasi benar-benar kuat. Begitu pula Tuhan, Ia sedang membangun fondasi iman kita agar mampu menopang berkat besar yang akan datang.

Kepada mereka yang sudah menanti bertahun-tahun, yang setiap bulannya harus berhadapan dengan kekecewaan: Anda tidak sendiri. Penantian Anda bukanlah tanda bahwa Tuhan lupa. Penantian Anda adalah bukti dari sebuah relasi yang intim—sebuah relasi yang menuntut kepercayaan, bahkan saat mata kita tidak melihat tanda-tanda kehadiran-Nya.

Permintaan akan keturunan adalah permintaan yang sangat kudus. Itu adalah keinginan untuk berpartisipasi dalam karya penciptaan Allah. Tidak ada yang salah dengan keinginan itu; justru, kerinduan itu adalah refleksi dari hati Allah yang ingin terus melimpahkan kehidupan.

Namun, dalam relasi ini, kita perlu berani bertanya pada Tuhan: “Apa yang Engkau mau dari penantian ini?” Mungkin Tuhan tidak hanya ingin memberi kita anak, tetapi Ia ingin kita memiliki-Nya lebih dalam lagi. Mungkin Ia ingin kita memahami bahwa nilai kita sebagai manusia tidak ditentukan oleh status sebagai orang tua, melainkan oleh identitas kita sebagai anak-anak-Nya.

Tuhan sering kali memberikan sesuatu bukan saat kita memintanya, tetapi saat kita sudah cukup dewasa untuk memilikinya. Penantian panjang ini adalah proses pendewasaan. Ia sedang menumbuhkan kerendahan hati bahwa hidup adalah karunia, bukan hak yang bisa kita tuntut kapan saja.

Apa yang Tuhan inginkan dari mereka yang belum memiliki keturunan? Mungkin Ia menginginkan keteguhan hati. Ia ingin melihat apakah kita tetap mengasihi-Nya meski Ia belum menjawab sesuai keinginan kita. Ia ingin melihat apakah kita mampu menemukan sukacita di dalam diri-Nya, di luar dari berkat apa pun yang Ia berikan.

Bagi Anda yang lelah, izinkanlah doa Anda berubah. Dari doa yang berbunyi, “Tuhan, berikanlah aku anak,” menjadi doa yang berbunyi, “Tuhan, bentuklah aku menjadi orang tua yang Engkau inginkan, dan pakailah aku sesuai kehendak-Mu.” Ketika fokus kita berubah dari hasil menjadi proses, beban di hati akan terasa jauh lebih ringan.

Penantian ini akan berakhir, entah dengan cara yang kita minta atau dengan cara Tuhan yang lebih indah. Namun, satu hal yang pasti: penantian ini akan meninggalkan jejak yang membentuk siapa kita nantinya. Kita tidak akan menjadi orang tua yang sama jika kita tidak pernah melewati masa penantian ini.

Kelak, saat anak itu datang, Anda akan memandangnya bukan sebagai pencapaian pribadi, melainkan sebagai anugerah yang telah dimurnikan oleh doa-doa panjang. Anda akan memandangnya dengan rasa syukur yang lebih dalam, karena Anda tahu betapa berharganya setiap napas yang ia miliki.

Kepada Tuhan, kita menyerahkan segala mimpi tentang peran orang tua yang akan kita jalani. Kita menyerahkan segala ketakutan akan kegagalan mendidik anak. Kita menyerahkan masa depan yang masih menjadi misteri. Kita percaya bahwa Sang Penulis Kehidupan tahu persis kapan bab berikutnya dimulai.

Jika hari ini Anda merasa penantian ini terlalu berat, ingatlah bahwa Tuhan juga sedang menanti. Ia menanti kita untuk benar-benar percaya. Ia menanti kita untuk melepas genggaman kita pada ambisi pribadi dan membiarkan tangan-Nya yang bekerja.

Kehadiran seorang anak adalah berkat, tetapi Tuhan adalah sumber dari berkat itu sendiri. Jangan sampai kita mengejar berkat sampai melupakan Sang Pemberi Berkat. Biarlah relasi Anda dengan Tuhan menjadi sumber sukacita utama, terlepas dari apakah rahim Anda sudah terisi atau belum.

Jangan berhenti berdoa. Bukan karena doa bisa “memaksa” Tuhan, tetapi karena doa menjaga hati kita tetap terhubung dengan-Nya. Doa adalah jembatan yang menghubungkan ketidakpastian masa depan kita dengan kedaulatan Tuhan yang sempurna.

Akan jadi orang tua seperti apa saya nanti? Saya berharap, saya menjadi orang tua yang telah belajar untuk bersandar sepenuhnya pada kasih karunia. Saya berharap, saya menjadi orang tua yang bisa mengajarkan anak saya bahwa Tuhan adalah segalanya, bahkan saat doa-doa kita belum terjawab.

Percayalah, Tuhan sedang mengerjakan sesuatu yang indah di balik layar. Mungkin saat ini kita hanya melihat fragmen yang terpisah-pisah, namun di tangan-Nya, semua itu sedang ditenun menjadi sebuah mahakarya. Tetaplah berharap, tetaplah setia, dan tetaplah berdoa.

Penantian ini bukanlah tanda bahwa Anda ditolak; ini adalah undangan untuk berjalan lebih dekat dengan-Nya. Dan dalam perjalanan itu, Anda akan menemukan bahwa Tuhan telah ada di sana sepanjang waktu, memegang tangan Anda, menanti saat yang tepat untuk menyatakan kebaikan-Nya yang luar biasa bagi hidup Anda.