Papa telah berlayar melintasi cakrawala yang tak lagi terjangkau oleh mata fana, meninggalkan dermaga yang kita bangun bersama dalam doa yang gigih. Selama bertahun-tahun, aku telah mengirimkan surat permohonan ke langit—sebuah tawaran tawar-menawar yang nekat—meminta agar Sang Nakhoda menunda keberangkatan kapal Papa sejak aku masih mengeja masa depan di bangku kuliah hingga nanti, saat ia bisa membelai jemari kecil sang cucu. Namun, Sang Waktu ternyata adalah pemahat yang tak kenal ampun, dan dermaga itu kini sunyi, hanya menyisakan jejak kaki di pasir yang perlahan dibilas pasang.
Dalam doa-doaku yang penuh ambisi, aku ingin Papa menjadi saksi hidup atas setiap babak pertumbuhanku, seolah-olah umur adalah properti yang bisa diperpanjang masa sewanya. Aku merancang skenario di mana ia tetap berdiri tegak sebagai pilar rumah kita, menyaksikan benih-benih yang ia tanam tumbuh menjadi pohon yang rindang. Namun, Tuhan memiliki draf cerita yang berbeda; Ia memanggil sang pelukis saat sapuan kuas terakhir pada sketsa hidupnya dirasa telah paripurna di mata-Nya.
Mungkin, permintaanku agar ia “tetap hidup” adalah bentuk egoisme yang diselimuti kasih sayang, sebuah keinginan untuk menahan cahaya matahari agar tak pernah terbenam di ufuk barat. Aku lupa bahwa umur bukanlah tentang panjangnya garis di atas kertas, melainkan tentang kedalaman goresan kasih yang ia tinggalkan di relung-relung jiwa kita. Papa tidak pergi karena ia selesai, ia pergi karena ia telah menyelesaikan tugasnya sebagai pemandu jalan sebelum badai yang lebih besar datang.
Kepergiannya adalah sebuah simfoni yang terputus di tengah nada yang paling indah, menyisakan gema yang terus berdenting dalam dadaku. Aku merasa seolah-olah kehilangan kompas saat kapal hidupku tengah berada di tengah samudra yang sedang berkecamuk, namun justru dalam kehilangan inilah aku dipaksa untuk belajar membaca bintang di langit yang gelap. Ia tidak lagi menuntun dengan tangan, melainkan dengan arah yang ia gariskan melalui teladan yang masih menetap.
Kini aku mengerti bahwa kehadiran cucu yang ia impikan mungkin tidak akan pernah ia rasakan melalui pelukan fisik, namun ia akan hadir dalam setiap cerita yang akan kututurkan di telinga anakku kelak. Papa telah bermetamorfosis menjadi nafas dalam setiap keputusan bijak yang kuambil dan menjadi detak dalam setiap keberanian yang kumiliki. Ia tidak benar-benar hilang; ia hanya berpindah tempat, dari depan mata menuju ke dalam sanubari yang terdalam.
Doaku dulu adalah sebuah kepungan: meminta Tuhan untuk memenjarakan Papa dalam waktu yang fana. Sekarang, doaku adalah sebuah pelepasan: membiarkan jiwanya menari di ruang keabadian yang tidak lagi dibatasi oleh nyeri tubuh atau gerak yang melambat. Ia telah sampai di pelabuhan tujuan, sementara aku masih harus meniti ombak, membawa bekal pelajaran tentang bagaimana mencintai tanpa syarat seperti yang ia contohkan.
Sang Pencipta tidak menjawab doaku dengan “ya” atau “tidak”, melainkan dengan sebuah rahasia yang baru tersingkap setelah badai ini mereda. Ternyata, kematian bukanlah sebuah tembok pembatas, melainkan sebuah pintu yang sengaja dibuka agar kita belajar mencintai tanpa harus selalu memiliki secara jasmani. Papa kini telah menyatu dengan keabadian, dan tugasku adalah memancarkan keabadian itu melalui sisa hidupku yang berharga.
Ada rasa sakit yang perih, bagai luka yang belum menutup sempurna, namun di dalamnya juga ada syukur yang tenang, seperti air yang mengalir di bawah permukaan tanah. Aku berterima kasih karena pernah dipinjamkan sebuah nyawa yang begitu luar biasa untuk menjadi tempatku belajar tentang arti dedikasi. Meskipun ia tidak sempat melihat cucunya secara kasat mata, ia telah mewariskan gen keberanian yang akan terus mengalir hingga keturunan yang keseribu.
Hari ini, aku tidak lagi menagih janji umur kepada Tuhan, melainkan merayakan setiap detik yang pernah Ia berikan kepadaku bersama Papa. Aku telah belajar bahwa kehadiran seseorang tidak diukur dari berapa lama ia duduk di meja makan, melainkan dari berapa besar ruang yang ia penuhi dalam ingatan dan tindakan. Papa adalah sebuah buku yang sudah selesai dibaca, namun ajarannya akan terus kubaca ulang hingga aku sendiri menyusulnya ke seberang sana.
Selamat berlayar, Pa, di samudra cahaya yang tak bertepi. Doaku kini bukan lagi permohonan agar kau kembali, melainkan sebuah simpul syukur atas keistimewaan pernah menjadi bagian dari hidupmu. Meski kau tak lagi ada di dermaga, jejak keberanianmu akan menjadi kompas bagiku, menuntun langkahku hingga nanti, saat peluk kita kembali bertaut di dermaga keabadian yang sesungguhnya.